Perspektif yang Berbeda
Berbicara tentang kapasitas otak, seringkali dihubungkan dengan kemampuan otak manusia untuk memproses, menyimpan, dan mengolah informasi. Kapasitas otak selalu dihubungkan dengan kumpulan kemampuan yang kompleks dan bervariasi pada seseorang. Beberapa aspek yang berkaitan dengan kapasitas otak diantaranya daya tangkap, kreativitas, kecepatan reaksi, kemampuan kognitif, pemrosesan informasi, dan lain-lain. Otak adalah organ pusat sistem saraf yang memiliki banyak fungsi kompleks.
Kapasitas otak atau kapasitas hardware merupakan kapasitas yang diukur berdasarkan jumlah sel otak. Semakin besar kapasitas otak maka semakin banyak jumlah sel otak yang ada di dalamnya. Ibarat RAM pada handphone, semakin besar kapasitasnya, maka semakin banyak memori yang bisa tersimpan di dalamnya dan ini tentunya akan sangat berpengaruh pada kecepatan sebuah handphone dalam memproses data. Dengan analogi ini, kapasitas otak memang memiliki keterkaitan yang sangat signifikan terhadap kecerdasan dan kemampuan kognitif seseorang.
Namun STIFIn memiliki pandangan yang sedikit berbeda tentang kapasitas otak dan kaitannya dengan kecerdasan. STIFIn punya pandangan berbeda tentang kapasitas otak dan kaitannya dengan kepribadian. Sebelum kita masuk ke pembahasan mengenai dua hal tersebut, secara sederhana STIFIn menjelaskan bahwa kapasitas otak dapat diketahui dengan mengukur lingkar kepala. Selain itu, kapasitas otak juga dapat diketahui dari seberapa banyak penampang kepala yang ditumbuhi rambut.
Jadi jika ada bagian atas kepala tidak ditumbuhi rambut, maka bisa dikatakan “tidak ada perkembangan sel otak” di bawahnya. Sedangkan “yang ada perkembangan sel otaknya” di atasnya akan ditumbuhi rambut. Namun, pengukuran ini lebih dimaksudkan dalam kasus tumbuh rambut secara alami sejak lahir dan kepala tidak mengalami perkembangan atau berubah ukurannya serta belum terpengaruh faktor kebotakan.
Apa Itu Tes IQ
Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang dirancang untuk mengukur tingkat kecerdasan seseorang. Tujuan dari tes ini adalah untuk memberikan gambaran tentang kemampuan kognitif seseorang dalam berbagai aspek seperti pemahaman verbal, pemecahan masalah numerik, pemahaman ruang, dan keterampilan logis.
Pemahaman verbal meliputi berbagai pertanyaan mengenai sinonim, antonim, pemahaman bacaan, dan kosa kata. Pemecahan masalah numerik berkaitan dengan pemecahan masalah matematika, deret angka, dan pertanyaan numerik lainnya. Pemahaman ruang meliputi berbagai pertanyaan tentang pemahaman pola, hubungan spasial, dan kemampuan memvisualkan objek atau situasi dalam ruang. Sedangkan keterampilan logis berkaitan dengan pemecahan masalah logis, analisa situasi, dan identifikasi pola-pola.
Tes IQ pertama kali dibuat oleh seorang psikolog asal Perancis bernama Alfred Binet (1857-1911) pada awal abad ke 20. Alat tes ini dikenal dengan Stanford-Binet Intelligence Scale. Binet menyusun alat tes ini dengan tujuan untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan bantuan khusus dalam pendidikan. Tes ini memberikan skor mental yang mencerminkan tingkat perkembangan mental anak. Alat ini terutama dirancang untuk mengukur kecerdasan anak-anak dengan cara yang objektif dan kuantitatif
Binet sendiri secara khusus tidak menyusun konsep IQ. Konsep ini muncul kemudian, ketika skor mental hasil tes Binet dibagi dengan umur kronologis dan dikalikan dengan 100 oleh psikolog Amerika, Lewis Terman (1877-1956). Hasilnya menghasilkan angka IQ, yang sejak itu menjadi ukuran umum untuk mengukur kecerdasan.
Dalam perkembangannya, selain Binet ada Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) yang dirancang khusus untuk mengukur kecerdasan pada orang dewasa. Kemudian ada Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) yang ditujukan untuk anak-anak. Kedua alat tes psikometrik ini dikembangkan oleh psikolog asal Amerika Serikat, David Wechsler (1896-1981).
Skor IQ dihitung berdasarkan seberapa baik seseorang menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes yang kemudian dibandingkan dengan populasi manusia secara umum. Skor IQ diinterpretasikan dalam beberapa kategori umum untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang tingkat kecerdasan seseorang. Nilai 100 dianggap sebagai skor rata-rata populasi. Nilai di atas 100 dianggap di atas rata-rata, dan skor dibawah 100 dianggap di bawah rata-rata. Berikut adalah kategori umum yang sering digunakan:
- Kecerdasan Rendah (Dibawah 70). Kurang dari 70 sering dianggap sebagai tingkat kecerdasan yang rendah dan dapat terkait dengan keterbatasan intelektual atau disabilitas kecerdasan.
- Kecerdasan Rata-rata (70-129). Skor IQ antara 70 dan 129 dianggap sebagai rata-rata. Sebagian besar populasi umum memiliki skor dalam kisaran ini.
- Kecerdasan Di Atas Rata-rata (130-144). Skor IQ di kisaran 130 hingga 144 dianggap sebagai tingkat kecerdasan di atas rata-rata atau cerdas.
- Kecerdasan Tinggi atau Super (145-159). Skor IQ antara 145 dan 159 dianggap sebagai tingkat kecerdasan tinggi atau super.
- Kecerdasan Sangat Tinggi atau Genius (160 ke atas). Skor IQ 160 ke atas sering dikaitkan dengan tingkat kecerdasan sangat tinggi atau bahkan jenius.
Kapasitas Otak Dan Pengaruhnya Terhadap Kecerdasan
Apakah kapasitas otak mempengaruhi kecerdasan? Menurut STIFIn, kapasitas otak akan mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang apabila dendrit otak saling terhubung membentuk hubungan yang disebut dengan sinapsis sehingga memungkinkan perjalanan impuls di otak semakin baik. Kapasitas otak dan dendrit yang terhubung adalah dua hal yang berbeda. Kapasitas otak merujuk kepada jumlah sel otak, sedangkan dendrit yang terhubung merujuk kepada hubungan sinapsis yang terjadi antar neuron di dalam sel otak.
Dendrit adalah salah satu komponen utama neuron (sel saraf). Dendrit adalah suatu struktur sel yang merupakan cabang-cabang pendek yang menyebar dari badan sel neuron. Fungsi utama dendrit adalah menerima sinyal atau impuls dari neuron lain atau dari sel-sel sensorik yang terjadi di dalam otak. Dendrit memiliki permukaan yang cukup luas dan dilengkapi dengan tonjolan-tonjolan pendek yang disebut dendritik spines. Dengan struktur ini, dendrit dapat membentuk hubungan sinapsis dengan akson dari neuron lain.
Sinapsis adalah hubungan antara dua neuron atau antara neuron dan sel efektor (seperti sel otot atau kelenjar) di mana transmisi sinyal atau impuls saraf terjadi. Sinapsis memungkinkan komunikasi antar sel-sel saraf atau antar sel saraf dan sel efektor, sehingga memungkinkan sistem saraf dapat berfungsi. Di sinapsis, sinyal atau informasi dikirimkan antar neuron melalui zat kimia yang disebut neurotransmitter. Sinyal atau impuls yang diterima oleh dendrit kemudian diteruskan ke badan sel neuron, dan ketika mencapai ambang tertentu, akan memicu neuron untuk menghasilkan dan mengirimkan sinyalnya sendiri melalui akson ke neuron atau sel target lainnya.
Dendrit berperan penting dalam proses pengiriman dan penerimaan sinyal di sistem saraf. Bayangkan neuron sebagai stasiun radio, dendrit adalah antenanya yang menerima sinyal, dan akson (bagian lain dari neuron) adalah bagian yang mengirimkan sinyal tersebut ke stasiun radio berikutnya. Dengan cara ini, dendrit berperan penting dalam mentransmisikan informasi di dalam sistem saraf, mirip dengan bagaimana antena memungkinkan radio untuk menerima berbagai siaran.
Pengukuran lingkar kepala dan pengukuran tumbuh rambut hanya sampai mengukur jumlah sel otak atau kapasitas otak, tidak bisa menggambarkan tingkat IQ atau kecerdasan seseorang. Untuk sampai kepada mengukur IQ, maka perlu ditentukan jumlah sel otak dan dendrit yang terhubung. Tes IQ cukup mampu menggambarkan hal tersebut. Seseorang yang memiliki kapasitas otak yang besar kemungkinan akan memiliki jumlah sel otak yang banyak, sehingga berpotensi memiliki IQ tinggi jika terus melatih otak agar lebih banyak dendrit yang terhubung.
Kapasitas Otak Dan Pengaruhnya Terhadap Kepribadian
Dalam aliran psikologi, tidak ada konsensus yang menjelaskan tentang hubungan antara kecerdasan dengan kepribadian. Banyak teori dan pendekatan psikologis yang mengeksplorasi hubungan ini, dan pandangan bisa sangat bervariasi. Para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda. Beberapa mungkin lebih menekankan korelasi antara kecerdasan dengan aspek kepribadian. Sementara yang lain mungkin lebih menekankan pemahaman bahwa kecerdasan dan kepribadian merupakan konsep yang terpisah.
STIFIn berkeyakinan bahwa kecerdasan memilliki keterkaitan dengan kepribadian. Kepribadian adalah kecerdasan yang terstimuli oleh drive kecerdasan. Namun, apakah kapasitas otak secara langsung mempengaruhi kepribadian? Kapasitas otak memang mempengaruhi kecerdasan, namun kemudian kecerdasan-lah yang akan mempengaruhi kepribadian secara langsung. Kapasitas otak perlu melewati kecerdasan sebelum benar-benar bisa mempengaruhi kepribadian dengan baik.
Meski berpengaruh, STIFIn menjelaskan bahwa kapasitas otak berada pada urutan keempat pada strata genetik. Artinya pengaruhnya lebih kecil dibandingkan jenis kelamin, mesin kecerdasan, dan drive kecerdasan. Kenapa bisa begitu? Karena kapasitas otak yang besar tanpa kecerdasan (dendrit yang terhubung sedikit), maka pengaruhnya terhadap kepribadian sangat kecil. Kapasitas otak merupakan genetik hereditas yaitu genetik yang diwariskan atau diturunkan dari ayah ibu atau dari kakek nenek.
Kapasitas Otak Mempengaruhi Tingkat Kecerdasan
Sebagai penutup, kapasitas otak akan mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang bila ada sinapsis yang terjadi di dalam sel otak. Dendrit menerima impuls dari neuron lain, kemudian akson mengirimkan impuls tersebut ke neuron lain. Hubungan atau interaksi yang terjadi antar neuron di dalam sel saraf yang melibatkan dendrit dan akson ini disebut hubungan sinapsis. Semakin banyak yang terhubung atau semakin intens sinapsis terjadi maka akan mempengaruhi tingkat kecerdasan atau kemampuan kognitif seseorang.
Kapasitas otak akan mempengaruhi kepribadian. Namun yang dimaksud adalah kapasitas otak dengan banyaknya jumlah dendrit yang saling terhubung. Jika tidak maka pengaruhnya sangat kecil, dibawah jenis kelamin, mesin kecerdasan, dan drive kecerdasan. Jika ada single parent dengan gender yang berbeda, satu laki-laki dan satu perempuan dengan asumsi memiliki kapasitas otak yang sama besarnya, maka yang akan berpeluang sukses mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan baik adalah perempuan. Sebab faktor gender mengalahkan faktor kapasitas otak.